La Maddukkelleng adalah seorang ksatria
dari Wajo, Sulawesi Selatan. Pada masa kecilnya hidup di lingkungan
istana (Arung Matowa Wajo) Wajo. Menginjak masa remaja ia diajak oleh
pamannya mengikuti acara adu (sambung) ayam di kerajaan tetangganya
Bone. Namun pada waktu itu terjadi ketidak adilan penyelenggaraan
acara tersebut dimana orang Wajo merasa dipihak yang teraniaya, La
Maddukkelleng tidak menerima hal tersebut dan terjadilah perkelahian.
Ia lalu kembali ke Wajo dalam pengejaran orang Bone, lalu lewat Dewan
Ade Pitue, ia memohon izin untuk merantau mencari ilmu. Dengan
berbekal Tiga Ujung, (ujung mulut, ujung tombak, dan ujung kemaluan)
ia berhasil di negeri Pasir (Kalimantan) sampai ke Malaysia, dan
merajai Selat Makassar, hingga Belanda menjulukinya dengan Bajak
Laut. Dia berhasil menikah dengan puteri raja Pasir, dan salah
seorang puterinya kawin dengan Raja Kutai. Dia bersama pengikutnya
terus menerus melawan Belanda. Setelah sepuluh tahun La Maddukkelleng
memerintah Pasir sebagai Sultan Pasir, datanglah utusan dari Arung
Matowa Wajo La Salewangeng yang bernama La Dalle Arung Taa menghadap
Sultan Pasir dengan membawa surat yang isinya mengajak kembali,
karena Wajo dalam ancaman Bone. La Maddukkelleng akhirnya kembali
lagi ke Tanah Wajo dan melalui suatu mufakat Arung Ennengnge (Dewan
Adat), beliau diangkat sebagai Arung Matowa Wajo XXXIV. Dalam
pemerintahannya, tercatat berhasil menciptakan strategi pemerintahan
yang cemerlang yang terus menerus melawan dominasi Belanda dan
membebaskan Wajo dari penjajahan diktean Kerajaan Bone, juga
keberhasilan memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Wajo
LA MADDUKKELLENG adalah putera dari
Arung (Raja) Peneki La Mataesdso To Ma’dettia dan We Tenriangka
Arung (Raja) Sengkang, saudara Arung Matowa Wajo La Salewangeng To
Tenrirua (1713-1737). Karena itulah La Maddukkelleng sering disebut
Arung Singkang dan Arung Peneki.
Pada tahun 1713, Raja Bone La Patau
Matanna Tikka mengundang Arung Matowa Wajo La Salewangeng untuk
menghadiri perayaan pelubangan telinga (pemasangan giwang) puterinya
I Wale di Cenrana (daerah kerajaan Bone). La Maddukkelleng ditugaskan
pamannya (dia putera saudara perempuan La Salewangeng) ikut serta
dengan tugas memegang tempat sirih raja. Sebagaimana lazimnya
dilakukan di setiap pesta raja-raja Bugis-Makassar, diadakanlah ajang
perlombaan perburuan rusa (maddenggeng) dan sambung ayam
(mappabbitte).
Pada saat berlangsungnya pesta sambung
ayam tersebut, ayam putera Raja Bone mati dikalahkan oleh ayam Arung
Matowa Wajo. Kemenangan itu tidak diakui oleh orang-orang Bone dan
mereka berpendapat bahw pertarungan tersebut sama kuatnya. Hal
tersebutlah yang menyebabkan terjadinya keributan. Pada saat itu La
Maddukkelleng turut serta dalam perkelahian tersebut yang
mengakibatkan korban di pihak Bone lebih banyak dibandingkan korban
pihak Wajo. Lontarak Sukunna Wajo menyatakan bahwa pada waktu terjadi
perkelahian tersebut, terjadi tikam menikam antara orang-orang
Wajo-Bone di Cenrana, saat itu La Maddukkelleng baru saja disunat dan
belum sembuh lukanya. Melihat kenyataan tersebut (karena mereka di
wilayah kerajaan Bone), maka orang-orang Wajo segera melarikan diri
melalui Sungai Walennae.
Setibanya Arung Matowa Wajo La
Salewangeng di Tosora, maka datanglah utusan Raja Bone untuk meminta
agar La Maddukkelleng diserahkan untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya (dianggap bersalah). Arung Matowa Wajo mengatakan bahwa
La Maddukkelleng tidak kembali ke Wajo sejak peristiwa di Cenrana.
Utusan raja Bone itu kembali sekalipun ia yakin bahwa La
Maddukkelleng masih berada di daerah Wajo, namun tidak dapat berbuat
banyak karena adanya ikrar antara Bone, Soppeng dan Wajo di Timurung
pada tahun 1582, bahwa tiga kerajaan itu harus saling mempercayai.
La Maddukkelleng datang menghadap dan
meminta restu Arung Matowa Wajo dan Dewan Pemerintah Wajo (arung
bentempola) untuk berlayar meninggalkan daerah Wajo. Saat itu
bertepatan dengan selesainya pembangunan gedung tempat penyimpanan
harta kekayaan di sebelah timur masjid Tosora serta gedung padi di
tiga limpo. Anggota Dewan pemerintah Kerajaan Wajo (La Tenri Wija
Daeng Situju) berpesan agar senantiasa mengingat negeri Wajo selama
perantauan. Lalu La Maddukkelleng ditanya tentang bekal yang akan
dibawa, ia menjawab bahwa ada tiga bekal yang akan dibawa serta
yaitu: pertama lemahnya lidahku, kedua tajamnya ujung kerisku dan
yang ketiga ujung kelaki-lakianku.
Dengan disertai pengikut-pengikutnya La
Maddukkelleng berangkat dari Peneki dengan menggunakan perahu layar
menuju Johor (Malaysia sekarang). Lontarak Sukunna Wajo memberitakan
bahwa La Maddukkelleng dalam perjalanan bertemu dengan saudaranya
bernama Daeng Matekko, seorang saudagar kaya Johor. Hal ini
membuktikan bahwa lama sebelumnya orang-orang Wajo sudah merambah
jauh negeri orang. La Maddukkelleng diperkirakan merantau pada masa
akhir pemerintahan Raja Bone La Patauk Matanna Tikka Nyilinna
Walinonoe, yang merangkap sebagai Datu Soppeng dan Ranreng Tuwa Wajo,
sekitar tahun 1714

0 Your Coment:
Posting Komentar
Masukan dan kritikan anda turut andil dalam penyempurnaan blog ini. Made_Blink182